ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadhan, Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat langkah rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana alam di sejumlah wilayah Sumatra. Hingga kini, bantuan tanggap darurat senilai Rp75,82 miliar telah disalurkan untuk memulihkan layanan pendidikan keagamaan, rumah ibadah, serta kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat terdampak bencana.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan, dari total bantuan tersebut, Rp66,47 miliar berasal dari APBN, sementara Rp9,35 miliar dihimpun melalui gerakan solidaritas Kemenag Peduli. Bantuan difokuskan pada pemulihan layanan keagamaan, pendidikan, serta kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat terdampak.
“Tiga provinsi menjadi prioritas utama penanganan, yakni Aceh dengan alokasi Rp42,88 miliar, Sumatera Utara Rp21,39 miliar, dan Sumatera Barat sebesar Rp11,56 miliar,” kata Nasaruddin.
Ia menjelaskan, sektor pendidikan keagamaan menjadi fokus utama dalam agenda rehabilitasi dan rekonstruksi. Data Kemenag mencatat, bencana alam telah merusak ratusan fasilitas pendidikan, terdiri atas 562 madrasah, 1.033 pesantren, serta 17 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang membutuhkan penanganan segera.
Pelaksanaan rehabilitasi fisik madrasah dan pesantren dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum, mengingat pembangunan infrastruktur berada dalam kewenangan kementerian tersebut. Kemenag sendiri telah menyiapkan dukungan anggaran dan dokumen administrasi yang dibutuhkan.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
“Secara administratif kami siap. Tantangan di lapangan saat ini adalah keterbatasan akses, terutama jalan dan jembatan yang masih rusak akibat bencana,” jelasnya.
Selain pendidikan, Kemenag juga memberi perhatian serius pada pemulihan sarana peribadatan lintas agama. Sebanyak 1.593 rumah ibadah, termasuk kantor layanan Kemenag di wilayah terdampak, masuk dalam daftar prioritas rekonstruksi.
Meski anggaran pembangunan rumah ibadah di internal Kemenag terbatas, gerakan Kemenag Peduli berhasil menghimpun dukungan dari berbagai pihak, seperti BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia, lembaga keuangan syariah, serta organisasi keagamaan. Dana tersebut digunakan untuk membantu perbaikan masjid, mushala, gereja, dan rumah ibadah lainnya agar kembali layak digunakan, khususnya menjelang bulan Ramadan.
Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Kemenag juga menjalankan program pemulihan mental dan spiritual masyarakat terdampak melalui pendampingan sosial-keagamaan, layanan konseling rohani, pengiriman tokoh agama lintas iman, serta distribusi puluhan ribu kitab suci yang rusak akibat bencana.
Jaringan penyuluh agama, majelis taklim, imam masjid, hingga pesantren turut digerakkan untuk membantu pembersihan lingkungan, pendampingan anak-anak, serta penguatan psikososial warga.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
“Pemulihan pascabencana bukan hanya soal gedung dan infrastruktur. Ketahanan batin, bimbingan rohani, dan kekuatan komunitas juga sangat dibutuhkan,” tegas Nasaruddin.
Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar memperlakukan madrasah dan sekolah umum secara setara dalam kebijakan penanganan pascabencana, termasuk dalam hal alokasi bantuan dan percepatan rehabilitasi.
Menag menargetkan sebagian besar rumah ibadah dapat kembali difungsikan sebelum Ramadan, seiring dengan penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Dengan sinergi lintas kementerian, Kemenag optimistis proses pemulihan di wilayah Sumatra dapat berlangsung lebih cepat, terarah, dan tepat sasaran.
“Kami yakin masyarakat terdampak dapat segera bangkit, beribadah dengan layak, dan menjalankan aktivitas pendidikan keagamaan secara normal kembali,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.