Caption Foto : Deretan gazebo menyambut wisatawan saat memasuk Svarga Mina Padi di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (Foto : Hermiana).
ORBIT-NEWS.COM, BANYUMAS – Hamparan hijau padi menjadi pemandangan pertama saat memasuki kawasan Svarga Mina Padi di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Deretan gazebo dengan kolam ikan di bawahnya menyempurnakan panorama alami di kaki Gunung Slamet.
Tak hanya menyuguhkan lanskap menawan, kawasan ini juga menghadirkan suasana yang hidup. Setelah melewati jalan yang diapit sawah menghijau dan gazebo-gazebo bambu, pengunjung akan menemukan area yang ramai. Puluhan anak tampak asyik bermain air di irigasi buatan, sementara para orang tua bersantai di warung-warung kuliner milik warga yang berjajar di sepanjang jalan.
“Awalnya di sini hanya ada river tubing di ujung sana yang memanfaatkan irigasi dari Sungai Sukan. Kemudian desa mendapatkan bantuan mina padi dari pemerintah, sehingga muncul lahan mina padi seluas 25 hektare di kawasan ini. Dalam perkembangannya, banyak yang berkunjung dari luar desa maupun luar Banyumas untuk belajar mina padi. Karena itu, fasilitas pun perlahan kami lengkapi hingga menjadi seperti sekarang ini,” tutur Ketua BUMDes Panembangan, Bagas Agung Pambudi (29), saat ditemui, Selasa (17/2/2026).
Bagas merupakan salah satu perintis usaha river tubing pada awal 2020. Namun, usaha tersebut baru berjalan sebentar sebelum pandemi Covid-19 memaksa operasional ditutup. Di tengah situasi itu, bantuan program mina padi datang dan menjadi titik balik pengembangan kawasan.
BUMDes kemudian mengalihkan fokus pada penguatan sektor mina padi sembari menata konsep wisata berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami membentuk Pokdarwis, dan sekarang seluruh pengelolaan kawasan ini ditangani oleh Pokdarwis,” jelasnya.
Setelah kondisi membaik dan river tubing kembali dibuka, kawasan tersebut terus berkembang. Fasilitas bertambah, mulai dari tubing mini, kolam renang, gazebo besar yang bisa disewa untuk berbagai acara, hingga puluhan warung milik warga yang ikut tumbuh di sekitarnya.
Komitmen desa bersama BUMDes dalam mengelola kawasan ini sebagai destinasi wisata edukasi mendapat perhatian berbagai instansi. Bantuan fasilitas pun mengalir, termasuk penambahan gazebo dan sarana pendukung lainnya.
Caption : Caption Foto : River tubing ini menjadi favorit wisatawan di Svarga Mina Padi Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (Foto : Hermiana).
Buka Lapangan Kerja
Keberadaan Svarga Mina Padi bukan hanya mengangkat potensi desa, tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Untuk wahana river tubing saja, sedikitnya 20 pemuda direkrut sebagai kru. Belum termasuk petugas parkir, pengelola kolam renang, mini tubing, hingga penyewaan gazebo.
Penanggung jawab river tubing, Destian, menyebutkan jumlah wisatawan saat akhir pekan bisa mencapai sekitar 500 orang, sedangkan hari biasa berkisar 100 orang. Dengan tarif Rp25 ribu, pengunjung dapat menikmati sensasi river tubing sepanjang 1,5 kilometer.
“Kalau hari libur antreannya cukup banyak, daftar tunggu bisa sampai tiga jam lebih. Dengan tiket Rp25 ribu, wisatawan sudah bisa river tubing dan nanti dijemput mobil di titik akhir. Jika ditambah makan, biayanya Rp50 ribu,” jelasnya di sela-sela kesibukan melayani pengunjung.
Kesibukan kru river tubing berlangsung hingga menjelang sore. Terlebih ketika dua mobil odong-odong datang membawa rombongan wisatawan, suasana semakin ramai. Meski bukan bagian dari unit usaha Svarga Mina Padi, kehadiran odong-odong ikut menambah semarak kawasan.
“River tubing ini merupakan jantungnya Svarga Mina Padi,” tegas Destian.
Caption : Caption Foto : Mandi uap rembah di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok,Kabupaten Banyumas. (Foto Hermiana).
Tak hanya tubing, Svarga Mina Padi juga menawarkan berbagai paket wisata menarik. Mulai dari paket tubing, jeep tour, hingga mandi uap rempah dengan tarif Rp125 ribu. Tersedia pula paket eduwisata, outing class, outbound, edukasi madu klanceng, edukasi gamelan, serta pengolahan hasil pascapanen berbasis ikan.
“Semua paket wisata melibatkan warga desa. Mandi uap rempah ada di rumah warga, pengolahan hasil panen juga dilakukan di rumah-rumah warga. Konsepnya memang pemberdayaan masyarakat,” terang Bagas.
Salah satu pengelola mandi uap rempah, Lilis, menyediakan tiga bilik terapi di rumahnya. Ia mengaku terinspirasi membuka layanan tersebut setelah merasakan sendiri manfaatnya.
“Saya pernah sakit vertigo akut, lalu menjalani terapi mandi uap rempah dan sekarang sudah sembuh. Karena itu saya ingin berbagi sehat dengan masyarakat,” tuturnya.
Terpisah, Kabid Pariwisata Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Bahrudin, mengatakan Desa Panembangan tengah diusulkan menjadi desa wisata. Keberadaan mandi uap rempah menjadi keunikan tersendiri.
“Biasanya mandi uap ada di perkotaan, tetapi ini justru ada di desa dan menjadi bagian dari paket wisata. Ini daya tarik yang berbeda,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pengembangan Desa Panembangan merupakan bagian dari program Trilas Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono dan Wakil Bupati Dwi Asih Lintarti, khususnya pada pengembangan sentra usaha, petani muda, serta desa wisata berbasis BUMDes.
Di tengah hamparan sawah yang dahulu sunyi, kini tumbuh denyut ekonomi dan semangat kolaborasi warga. Svarga Mina Padi membuktikan bahwa desa mampu bertransformasi menjadi destinasi wisata edukatif tanpa kehilangan akar pertaniannya. Dari jeram river tubing hingga hangatnya uap rempah, dari mina padi hingga UMKM warga, semuanya dirajut dalam semangat gotong royong. Lebih dari sekadar tempat rekreasi, kawasan ini menjadi ruang belajar terbuka tentang pentingnya mengelola potensi lokal secara berkelanjutan, menjaga kelestarian alam, serta membangun kemandirian ekonomi desa.
"Ketika alam dijaga, tradisi dirawat, dan masyarakat dilibatkan, desa bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan menginspirasi," ungkap Bagas.
Area sawah yang dulu hanya menjadi ruang produksi pangan, kini tumbuh pusat aktivitas ekonomi dan edukasi yang menggeliat. Svarga Mina Padi bukan sekadar tempat berlibur, tetapi ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang kolaborasi warga desa yang dimotori anak-anak muda. Di kaki Gunung Slamet, surga kecil itu kini tak hanya memanjakan mata, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi masa depan desa.