ORBIT-NEWS.COM, YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjadikan Ramadan 1447 Hijriah sebagai momentum strategis untuk memperkuat ketakwaan sekaligus mendorong kemajuan peradaban. Ia menekankan pentingnya menyikapi berbagai perbedaan yang muncul dengan kedewasaan dan sikap tasamuh.
Menurut Haedar, perbedaan dalam kehidupan keagamaan merupakan bagian dari dinamika ijtihad yang tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan. Umat Islam diminta untuk tidak saling menyalahkan atau merasa paling benar, melainkan fokus pada esensi ibadah puasa.
“Puasa bertujuan meningkatkan ketakwaan, baik secara pribadi maupun kolektif. Karena itu, yang utama adalah bagaimana ibadah ini benar-benar menghadirkan perubahan diri,” ujarnya.
Haedar menjelaskan, ketakwaan yang diraih selama Ramadan harus tercermin dalam kepatuhan menjalankan perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sosial. Ia berharap, peningkatan spiritual selama bulan suci juga berdampak pada membaiknya hubungan antarwarga dan menguatnya solidaritas sosial.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
Ia mengingatkan agar berbagai persoalan, termasuk perbedaan pandangan, tidak mengalihkan perhatian dari tujuan utama Ramadan. Dengan kecerdasan dan keimanan, umat Islam diyakini mampu meraih derajat kemuliaan yang lebih tinggi.
Sarana Perbaikan Akhlak
Lebih jauh, Haedar menilai Ramadan sebagai sarana perbaikan akhlak, baik dalam ranah pribadi maupun publik. Puasa harus menjadi wahana pembentukan karakter yang unggul agar umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dan berkontribusi dalam membangun peradaban maju.
Menurutnya, umat Islam tidak boleh bersikap pasrah terhadap keadaan, terutama dalam bidang ekonomi. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas hidup memerlukan kesungguhan dan kerja keras. Nilai-nilai yang dilatih dalam puasa, seperti disiplin, efisiensi, dan pengendalian diri, merupakan fondasi penting untuk kemajuan ekonomi.
Dalam konteks sosial kebangsaan, Haedar juga menyebut puasa sebagai “kanopi sosial” yang menjaga masyarakat dari konflik. Menahan diri tidak hanya berarti menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan amarah, kebencian, serta dorongan untuk berkonflik, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
Ia mengajak umat Islam untuk tampil sebagai agen perdamaian dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Ramadan, kata dia, harus melahirkan umat yang unggul secara spiritual, moral, sosial, dan intelektual.
“Puncak takwa adalah perbaikan martabat hidup tertinggi. Umat Islam harus maju dalam berbagai aspek kehidupan menuju peradaban utama,” pungkasnya.