ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Wakil Ketua DPRD Banyumas, Muh. Elangga Adinugraha, S.M, menyampaikan pesan perubahan, bahwa pertanian Banyumas harus berani melompat ke era teknologi. Pesan itu diwujudkan lewat penyerahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kamis (22/1/2026), dengan didampingi Ketua DPC Partai Gerindra Banyumas, Ir.Budiyono.
Bantuan tersebut menjadi simbol pergeseran cara bertani, dari ketergantungan pada tenaga manual menuju pemanfaatan mesin dan teknologi presisi. Di tengah tantangan biaya produksi yang terus meningkat serta berkurangnya tenaga kerja pertanian, alsintan dinilai sebagai jawaban konkret bagi petani di lapangan.
Elangga, yang akrab disapa Erik, mengungkapkan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi petani. Sebagai wakil rakyat, Erik langsung menyampaikan aspirasi tersebut ke Kementerian Pertanian (Kementan). Respons cepat Wamentan Sudaryono menjadi catatan penting, karena bantuan terealisasi kurang dari satu bulan sejak pengajuan diajukan pada akhir Desember 2025.
“Ini bukti bahwa suara petani daerah bisa sampai ke pusat dan langsung ditindaklanjuti. Sekarang tantangannya bagaimana kita memanfaatkan bantuan ini sebaik mungkin,” ujar Erik.
Salah satu sorotan utama adalah penggunaan drone pertanian. Teknologi ini memungkinkan penyemprotan pupuk dan pestisida dilakukan lebih cepat, lebih hemat, dan lebih merata. Bagi petani, kehadiran drone bukan sekadar alat baru, melainkan pintu masuk menuju pertanian modern yang efisien dan berkelanjutan.
Baca juga: Jelang Ramadan, DPR Soroti Kesiapan Stok Pangan dan Peran Bulog Kendalikan Harga
Dalam kegiatan tersebut, 13 Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) hadir sebagai pengelola alsintan di tingkat lapangan. Erik menekankan pentingnya peran Gapoktan sebagai penghubung antara teknologi dan petani, agar manfaat alsintan dapat dirasakan secara luas dan merata.
Ubah Cara Bertani
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Banyumas, Hery Jatmiko, menjelaskan bahwa mekanisasi pertanian membawa dampak langsung terhadap pola kerja petani. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit, tanpa mengorbankan kualitas.
“Penyemprotan satu hektare sawah secara manual bisa memakan waktu dua jam. Dengan drone, cukup 15 menit. Artinya, petani menghemat waktu, tenaga, dan biaya,” jelasnya.
Baca juga: Keluhan Opsen PKB Menguat, Ketua DPRD Banyumas Dorong Kajian Menyeluruh dan Transparan
Selain drone, bantuan juga mencakup tiga unit traktor crawler dan tujuh traktor roda empat. Seluruh alsintan tersebut dikelola melalui Gapoktan, Kelompok Tani, dan Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) dengan sistem sewa terjangkau, sehingga dapat dimanfaatkan bersama oleh petani.
Hery menambahkan, mekanisasi bukan untuk menggantikan petani, melainkan memperkuat kapasitas mereka agar lebih produktif dan berdaya saing.
Menutup kegiatan, Erik kembali menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan yang berpihak pada petani. Ia berharap modernisasi pertanian tidak berhenti pada bantuan alat, tetapi berlanjut pada peningkatan keterampilan dan kesejahteraan petani.
“Teknologi harus menjadi sahabat petani. Jika dimanfaatkan dengan baik, pertanian Banyumas tidak hanya bertahan, tetapi juga melangkah maju,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.