Banner Utama

Terapi Air Putih: Antara Manfaat Kesehatan dan Risiko Intoksikasi Cairan

Kesehatan
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 06, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Minum air putih kerap dianggap sebagai kebiasaan sederhana yang selalu berdampak baik bagi kesehatan. Namun, di balik manfaatnya yang beragam, konsumsi air putih, terutama dalam praktik terapi air putih, perlu dilakukan secara bijak. Pasalnya, asupan cairan yang berlebihan justru berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius.

Air putih berperan vital dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Cairan ini membantu melancarkan sistem pencernaan, mengatur suhu tubuh, serta mendukung kerja ginjal dalam proses metabolisme dan pembuangan zat sisa. Secara umum, kebutuhan cairan harian orang dewasa berkisar 2 liter atau sekitar delapan gelas per hari, tergantung aktivitas dan kondisi tubuh masing-masing.

Berbeda dengan kebiasaan minum air biasa, terapi air putih dilakukan dengan metode khusus, yakni mengonsumsi air segera setelah bangun tidur dalam kondisi perut kosong. Praktik ini diyakini dapat membantu membersihkan saluran cerna, meningkatkan fungsi usus, dan memperlancar pencernaan sejak pagi hari.

Dalam penerapannya, terapi air putih memiliki sejumlah aturan yang dianjurkan. Air yang digunakan sebaiknya bersuhu normal atau hangat, bukan dingin. Konsumsi dilakukan sebanyak empat hingga lima gelas berukuran sekitar 160 mililiter pada pagi hari. Setelah minum, dianjurkan untuk menunggu sekitar 45 menit sebelum sarapan, serta membatasi waktu makan hanya 15 menit. Jeda konsumsi makanan berikutnya pun disarankan minimal dua jam.

Pada tahap awal, pelaku terapi air putih umumnya akan lebih sering buang air kecil. Kondisi ini merupakan respons alami tubuh dalam menyesuaikan diri dengan peningkatan asupan cairan.

Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat

Pendukung terapi ini meyakini bahwa kebiasaan minum air putih secara teratur dapat membantu mencegah berbagai gangguan kesehatan, mulai dari dehidrasi, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, hingga risiko penyakit kronis tertentu. Meski demikian, klaim tersebut tetap perlu disikapi dengan kehati-hatian.

Di sisi lain, konsumsi air putih secara berlebihan dalam waktu singkat juga menyimpan risiko. Ginjal memiliki batas kemampuan dalam menyaring dan mengeluarkan cairan. Pada orang dewasa yang sehat, ginjal rata-rata hanya mampu membuang sekitar setengah liter air per jam. Jika jumlah cairan yang masuk melampaui kemampuan tersebut, ginjal akan bekerja lebih berat dan berisiko mengalami gangguan fungsi.

Asupan air yang berlebihan juga dapat menurunkan kadar natrium dalam darah secara drastis. Kondisi ini dikenal sebagai intoksikasi air, yaitu ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang dapat berdampak serius bagi tubuh. Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, sakit kepala, diare, kejang, hingga kram otot. Dalam kondisi berat, intoksikasi air dapat menyebabkan pembengkakan otak, penurunan kesadaran, bahkan koma.

Para ahli mengingatkan bahwa menjaga keseimbangan cairan jauh lebih penting dibanding sekadar memperbanyak minum. Salah satu indikator sederhana untuk menilai kecukupan cairan tubuh adalah warna urine. Urine berwarna kuning pekat menandakan tubuh kekurangan cairan, sementara urine yang terlalu jernih dapat menjadi sinyal kelebihan asupan air.

Baca juga: Kenali Zona Detak Jantung Saat Olahraga, Kunci Latihan Aman dan Efektif

Karena itu, masyarakat disarankan untuk minum air putih sesuai kebutuhan tubuh dan berhenti saat rasa haus telah hilang. Air putih memang penting bagi kesehatan, tetapi konsumsi yang berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh justru dapat menimbulkan dampak sebaliknya.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: