ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG - Menjelang Ramadan 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen pendidikan keagamaan untuk menjadikan bulan suci sebagai momentum strategis membangun kesadaran ekologis berbasis nilai agama. Ia menekankan pentingnya penguatan ekoteologi, yakni pemahaman keagamaan yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
Dalam kunjungan kerjanya ke UIN Walisongo Semarang, Jumat (6/2/2026), Menag menilai Ramadan bukan sekadar ritual spiritual individual, melainkan sarana pendidikan sosial yang efektif untuk membentuk perilaku kolektif umat. Menurutnya, perguruan tinggi, terutama kampus keagamaan, memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak perubahan tersebut.
“Ramadan adalah momen paling tepat untuk menanamkan kesalehan yang berdampak sosial. Nilai-nilai agama perlu diterjemahkan ke dalam praktik nyata yang ramah lingkungan, dan kampus punya peran penting dalam proses itu,” ujar Nasaruddin.
Ia menjelaskan, pesan-pesan ekoteologi selaras dengan arah kebijakan nasional, khususnya Gerakan Indonesia Asri yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Gerakan ini menekankan pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi sampah, serta merawat lingkungan hidup sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Dalam konteks Ramadan, Menag menilai nilai-nilai tersebut dapat disampaikan melalui narasi keagamaan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari ajakan menghindari pemborosan makanan saat berbuka, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga menjaga kebersihan masjid dan lingkungan sekitar rumah ibadah.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
Agen Perubahan
Lebih jauh, Nasaruddin menyoroti peran dosen dan civitas akademika sebagai agen perubahan. Dengan otoritas keilmuan dan kedekatan sosial, kampus dinilai mampu menjembatani konsep teologis dengan praktik konkret di tengah masyarakat. Kegiatan seperti khutbah Ramadan, kajian keagamaan, pengabdian masyarakat, hingga program kampus dapat menjadi medium efektif untuk membumikan ekoteologi.
“Puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri dari perilaku boros dan eksploitatif terhadap alam. Di situlah makna kesalehan ekologis yang ingin kita tumbuhkan,” tuturnya.
Kementerian Agama mendorong agar pesan-pesan ekoteologi diintegrasikan ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendekatan ini, nilai keagamaan diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi berkontribusi langsung dalam membangun budaya hidup bersih, hemat sumber daya, dan peduli lingkungan.
Sejalan dengan itu, Kemenag juga mengajak pengelola rumah ibadah, pesantren, serta komunitas keagamaan menjadikan Ramadan 2026 sebagai titik awal penerapan ibadah ramah lingkungan. Di antaranya melalui pengelolaan sampah yang lebih tertib di masjid, penggunaan peralatan makan ramah lingkungan saat buka puasa bersama, serta penghematan air dan energi.
Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menumbuhkan kesadaran sesaat selama Ramadan, tetapi juga melahirkan kebiasaan berkelanjutan yang melekat dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.