ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memasuki fase baru pada 2026. Setelah satu tahun fokus pada pemeriksaan kesehatan massal, Kementerian Kesehatan RI kini mengarahkan CKG sebagai instrumen pengendalian penyakit dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Perubahan arah kebijakan ini menegaskan bahwa CKG tidak lagi berhenti pada tahap skrining. Pemerintah memastikan hasil pemeriksaan langsung ditindaklanjuti melalui layanan pencegahan, pengobatan, hingga rujukan yang terintegrasi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, tujuan utama CKG adalah memastikan masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat kesehatan, bukan sekadar mengetahui kondisi tubuhnya. Menurutnya, negara hadir tidak hanya pada proses deteksi, tetapi juga dalam penanganan awal penyakit.
“Di 2026, kita ingin memastikan masyarakat bukan hanya diperiksa, tapi juga ditangani. Pemeriksaan gratis, pencegahan gratis, pengobatan awal juga gratis,” kata Budi.
Dalam skema baru tersebut, masyarakat yang terdeteksi memiliki gangguan kesehatan melalui CKG dijamin memperoleh pengobatan gratis selama 15 hari pertama. Setelah itu, layanan dilanjutkan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi peserta BPJS Kesehatan aktif. Sementara warga yang belum terdaftar akan difasilitasi untuk segera mengaktifkan kepesertaan agar tetap memperoleh layanan lanjutan.
Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat
Kementerian Kesehatan menilai langkah ini penting mengingat tantangan kesehatan masyarakat masih cukup besar. Data evaluasi CKG tahun 2025 menunjukkan persoalan kesehatan terjadi di hampir seluruh kelompok usia. Mulai dari bayi dengan berat badan lahir rendah, balita yang mengalami masalah kesehatan gigi, remaja dengan tekanan darah di atas normal, hingga tingginya kasus obesitas sentral pada orang dewasa dan hipertensi pada kelompok lanjut usia.
Penanganan Cepat
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Maria Endang Sumiwi, menyebut penanganan cepat menjadi kunci agar penyakit tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat. Oleh karena itu, mulai 2026 pasien hipertensi dan diabetes yang terdeteksi melalui CKG akan langsung mendapatkan obat pada hari yang sama di Puskesmas.
“Pasien tidak perlu menunggu lama. Begitu terdeteksi, pengobatan langsung diberikan,” ujarnya.
Selain penguatan layanan, pemerintah juga menyoroti pentingnya komunikasi publik. Badan Komunikasi Pemerintahan menilai keberhasilan CKG sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan yang tersedia. Karena itu, orkestrasi komunikasi yang masif dan berkelanjutan akan terus dilakukan.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
Dengan cakupan yang menyasar seluruh lapisan penduduk, CKG disebut sebagai salah satu program kesehatan dengan penerima manfaat terbesar di Indonesia. Pemerintah daerah pun didorong untuk berinovasi agar layanan semakin mudah diakses.
Beberapa daerah telah menjadi contoh, seperti Kabupaten Pangkep yang menghadirkan layanan kesehatan jemput bola melalui program Perahu Sehat Pulau Bahagia untuk wilayah kepulauan. Sementara di Pacitan, Puskesmas setempat mengintegrasikan layanan kesehatan fisik dan mental melalui program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).
Melalui transformasi CKG pada 2026, pemerintah berharap layanan kesehatan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan preventif dan responsif, sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat meningkat secara nyata dan berkelanjutan.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.