ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Penyakit Alzheimer merupakan salah satu gangguan kesehatan otak yang paling banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia. Penyakit ini ditandai dengan penurunan kemampuan daya ingat, berpikir, berbahasa, hingga perubahan perilaku yang terjadi secara bertahap dan terus memburuk seiring waktu. Dalam kondisi lanjut, penderita bahkan dapat kehilangan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Secara medis, Alzheimer termasuk penyakit degeneratif, yakni kondisi yang menyebabkan kerusakan sel-sel saraf otak secara progresif. Pada tahap awal, gejala yang muncul sering kali ringan dan kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan biasa. Penderitanya mungkin mulai lupa nama benda, lupa percakapan yang baru saja terjadi, atau tidak mengingat peristiwa dalam waktu dekat.
Namun, seiring perkembangan penyakit, gangguan yang dialami menjadi semakin nyata. Penderita Alzheimer dapat mengalami kebingungan, mudah cemas, serta menunjukkan sikap curiga berlebihan terhadap orang di sekitarnya. Tidak jarang pula muncul perubahan emosi dan perilaku yang memengaruhi hubungan sosial dengan keluarga maupun lingkungan.
Mayoritas kasus Alzheimer ditemukan pada individu berusia di atas 60 tahun. Meski demikian, dalam beberapa kasus tertentu, penyakit ini juga dapat menyerang usia yang lebih muda, terutama jika dipengaruhi faktor genetik.
Penyebab dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat
Alzheimer terjadi akibat penumpukan protein abnormal di otak yang mengganggu komunikasi antarsel saraf. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan berkurangnya fungsi otak yang berperan penting dalam mengatur memori, bahasa, serta kemampuan berpikir.
Berbagai penelitian mengungkap bahwa Alzheimer tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor genetik, gaya hidup, serta lingkungan diduga berperan dalam memicu munculnya penyakit ini. Meski begitu, mekanisme pasti terjadinya Alzheimer hingga kini masih terus diteliti.
Gejala Alzheimer dapat berbeda-beda pada setiap penderita. Namun secara umum, gangguan komunikasi, kesulitan mengenali wajah atau orang terdekat—termasuk anggota keluarga sendiri—menjadi tanda yang sering muncul. Kondisi ini dikenal sebagai prosopagnosia. Selain itu, penderita juga berisiko mengalami depresi, delusi, hingga perubahan suasana hati yang ekstrem.
Pengobatan dan Upaya Menjaga Kesehatan Otak
Hingga saat ini, belum ditemukan terapi yang mampu menyembuhkan penyakit Alzheimer secara total. Meski demikian, pengobatan tetap diperlukan untuk memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup penderita. Beberapa jenis obat, seperti rivastigmine, digunakan untuk membantu mengurangi atau menunda perburukan gejala.
Baca juga: Kenali Zona Detak Jantung Saat Olahraga, Kunci Latihan Aman dan Efektif
Selain pengobatan medis, dokter juga kerap merekomendasikan terapi non-obat, seperti terapi stimulasi kognitif dan psikoterapi, guna menjaga fungsi mental penderita selama mungkin.
Karena penyebab Alzheimer belum sepenuhnya dipahami, upaya pencegahan secara spesifik masih terbatas. Namun, masyarakat dianjurkan untuk menjaga kesehatan otak sejak dini dengan menerapkan gaya hidup sehat. Tidak merokok, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta menjaga aktivitas mental dan sosial diyakini dapat membantu menurunkan risiko gangguan fungsi otak di usia lanjut.
Dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, pemahaman mengenai penyakit Alzheimer menjadi semakin penting. Edukasi yang tepat diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali gejala sejak dini dan memberikan dukungan yang optimal bagi penderita maupun keluarganya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.