Banner Utama

Menjernihkan Ibadah Tarawih: Sunnah Ramadan yang Sarat Makna dan Keutamaan

Pendidikan
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 11, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Setiap kali Ramadan tiba, masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah. Lantunan Al-Qur’an terdengar hingga larut malam, dan satu ibadah khas bulan suci pun kembali dijalankan: salat Tarawih. Meski rutin dilaksanakan setiap tahun, Tarawih masih kerap memunculkan perbedaan praktik dan pemahaman di tengah umat.

Perbedaan jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, hingga status berjamaah sering kali menjadi bahan diskusi. Untuk memahami Tarawih secara lebih utuh, rujukan utama tentu berasal dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw yang secara langsung menjelaskan praktik qiyām Ramadhān.

Salah satu hadis paling penting terkait Tarawih diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra. Ia mengisahkan bahwa Rasulullah saw pernah melaksanakan salat malam di masjid pada bulan Ramadan dan diikuti oleh para sahabat. Namun, setelah beberapa malam jumlah jamaah semakin banyak, Nabi saw justru tidak lagi keluar untuk mengimami mereka.

Ketika pagi tiba, Rasulullah saw menjelaskan bahwa beliau sengaja tidak keluar karena khawatir salat tersebut akan dianggap sebagai kewajiban bagi umatnya. Peristiwa ini menjadi dasar kuat bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah, bukan salat wajib. Nabi saw justru menghindarinya menjadi rutinitas berjamaah agar umat tidak terbebani.

Makna ini ditegaskan kembali dalam hadis Abu Hurairah ra. Rasulullah saw menganjurkan qiyam Ramadan tanpa perintah yang bersifat mengikat. Beliau menyampaikan bahwa siapa pun yang melaksanakan salat malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Baca juga: ParagonCorp Perluas Akses Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa Lewat Novo Club Batch 4

Pesan utama dari hadis-hadis ini adalah bahwa Tarawih sangat dianjurkan dan berpahala besar, namun tidak diwajibkan. Umat diberi kelonggaran sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

Berjamaah Boleh, Tapi Bukan Kewajiban Harian

Hadis riwayat Abu Dzar ra memberikan gambaran lain tentang praktik Tarawih pada masa Nabi saw. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah saw tidak setiap malam melaksanakan salat malam berjamaah bersama para sahabat. Bahkan, beliau baru mengimami mereka pada beberapa malam terakhir Ramadan.

Meski demikian, Nabi saw menegaskan keutamaan besar bagi jamaah yang mengikuti imam hingga selesai. Siapa pun yang salat bersama imam sampai selesai, dicatat seolah-olah ia melaksanakan qiyam semalam penuh. Hadis ini menjadi dasar bolehnya Tarawih berjamaah sekaligus penegasan keutamaannya, tanpa menjadikannya sebagai kewajiban harian.

Jumlah Rakaat Nabi: 11 Termasuk Witir

Baca juga: 37 Ribu Lebih Siswa Berebut Kursi Madrasah Unggulan, Seleksi SNMB 2026/2027 Kian Kompetitif

Di tengah praktik umat yang beragam, hadis ‘Aisyah ra memberikan penjelasan tegas tentang jumlah rakaat salat malam Nabi saw. Ia menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat, termasuk witir.

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, sehingga memiliki kedudukan yang sangat kuat. Artinya, secara historis dan normatif, praktik Tarawih Nabi saw berjumlah 11 rakaat. Meski demikian, para ulama kemudian memberikan ruang ijtihad dalam praktik umat, selama esensi qiyam Ramadan tetap terjaga.

Waktu Paling Utama di Akhir Malam

Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah saw melaksanakan salat malam pada waktu yang cukup larut, bahkan mendekati waktu sahur. Karena itu, para ulama menyebutkan bahwa waktu paling utama (afdhal) untuk Tarawih adalah di sepertiga malam terakhir.

Namun, Tarawih juga sah dan boleh dilaksanakan di awal malam setelah salat Isya, terutama untuk menjaga kekhusyukan jamaah dan memudahkan umat. Pelaksanaan berjamaah di masjid tetap memiliki keutamaan tersendiri, khususnya bagi mereka yang mengikuti imam hingga selesai.

Baca juga: Kolaborasi UMP dan Anggota DPR RI Dorong Mahasiswa Jadi Pelaku Ekonomi Kreatif dan UMKM

Pada akhirnya, Tarawih adalah ibadah yang sarat makna spiritual dan kasih sayang. Ia tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah di bulan penuh ampunan. Perbedaan praktik hendaknya disikapi dengan lapang dada, selama berlandaskan pada tuntunan Nabi saw dan semangat ibadah yang tulus.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: