Banner Utama

Idulfitri 2026 Diprediksi Lebih Awal, Ini Jadwal Sementara dan Potensi Perbedaan 1 Syawal 1447 H

Nasional
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 14, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Menjelang datangnya bulan suci, suasana Ramadan mulai terasa di berbagai penjuru negeri. Tak hanya persiapan ibadah, pembahasan mengenai kapan tepatnya Hari Raya Idulfitri 2026 akan dirayakan pun semakin ramai diperbincangkan. Pertanyaan tentang 1 Syawal 1447 Hijriah menjadi topik hangat, terutama karena perayaan tahun ini diprediksi jatuh lebih awal dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Secara kalender Masehi, Idulfitri 2026 diperkirakan berlangsung pada akhir kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan kalender hijriah yang dirilis Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama serta SKB Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026, lebaran diprediksi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun, tanggal tersebut masih bersifat sementara dan menunggu penetapan resmi pemerintah.

Penentuan hari raya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan 1 Syawal melalui sidang isbat yang digelar pada 29 Ramadan. Sidang ini menjadi forum resmi untuk memadukan hasil perhitungan astronomi dan laporan pemantauan hilal dari berbagai titik di Indonesia.

Secara umum, ada tiga pendekatan utama dalam menentukan Idulfitri :

Pertama, metode hisab. Pendekatan ini menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan dan matahari secara matematis. Dengan metode ini, awal bulan hijriah dapat diprediksi jauh hari sebelumnya. Organisasi seperti Muhammadiyah dikenal menggunakan metode hisab hakiki, termasuk dalam penetapan Idulfitri 1447 H.

Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban

Kedua, metode rukyat atau pengamatan langsung hilal. Pada metode ini, bulan sabit pertama dicari secara visual saat matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadan. Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria yang disepakati, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Metode ini lazim digunakan oleh Nahdlatul Ulama bersama pemerintah.

Ketiga, sidang isbat. Dalam forum ini, pemerintah menggabungkan laporan rukyat dari seluruh Indonesia dengan data hisab. Jika hilal memenuhi kriteria yang ditetapkan Menteri Agama negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), maka keputusan resmi diumumkan kepada publik pada malam itu juga. Keputusan sidang isbat bersifat final dan menjadi acuan nasional.

Potensi Perbedaan

Perbedaan metode inilah yang kerap menimbulkan potensi perbedaan tanggal perayaan. Untuk 2026, Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 02/MLM/I.0/E/2025 telah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan tersebut merujuk pada hisab hakiki serta implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Artinya, ada kemungkinan perbedaan satu hari antara Muhammadiyah dan pemerintah/NU, tergantung hasil rukyat dan sidang isbat mendatang. Meski demikian, masing-masing pihak menegaskan bahwa keputusan diambil berdasarkan prinsip keilmuan dan keyakinan yang telah lama dianut.

Baca juga: Di Tengah Ancaman Iklim, Indonesia Catat Rekor Terendah Kematian DBD

Di luar perbedaan tersebut, semangat Idulfitri tetap sama, momentum kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, mempererat silaturahmi, dan memperkuat persatuan. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah maupun organisasi keagamaan masing-masing, sembari menjaga sikap saling menghormati dalam menyambut hari yang fitri.

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: