Banner Utama

Defisiensi Vitamin D Masih Luput dari Perhatian, Ini Dampak Serius dan Cara Mencegahnya

Kesehatan
By Redaksi Orbit-News.com  —  On Feb 05, 2026
Caption Foto : Ilustrasi.

ORBIT-NEWS.COM, PURWOKERTO - Kekurangan vitamin D kerap tidak disadari karena gejalanya samar dan mudah disalahartikan sebagai kelelahan biasa. Padahal, defisiensi vitamin yang berperan penting dalam kesehatan tulang dan sistem kekebalan tubuh ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang, mulai dari gangguan pertumbuhan tulang hingga meningkatnya risiko infeksi.

Vitamin D berfungsi membantu penyerapan kalsium dan fosfor, dua mineral utama pembentuk tulang. Jika asupannya tidak mencukupi, tubuh akan kesulitan menjaga kepadatan dan kekuatan tulang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berujung pada penyakit rakitis pada anak, osteomalacia pada orang dewasa, serta osteoporosis yang meningkatkan risiko patah tulang.

Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan, kebutuhan vitamin D harian bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa hingga usia 65 tahun adalah sekitar 15 mikrogram (mcg) per hari. Sementara itu, kelompok lanjut usia di atas 65 tahun dianjurkan mengonsumsi vitamin D lebih tinggi, yakni 20 mikrogram per hari, mengingat kemampuan tubuh menyerap vitamin ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Defisiensi vitamin D dapat terjadi akibat berbagai faktor. Selain kurangnya konsumsi makanan sumber vitamin D dan minimnya paparan sinar matahari, kondisi medis tertentu juga berperan besar. Gangguan penyerapan di saluran cerna seperti penyakit radang usus, alergi susu, hingga intoleransi laktosa dapat menghambat asupan vitamin ini. Faktor lain yang meningkatkan risiko kekurangan vitamin D meliputi warna kulit yang lebih gelap, usia lanjut, obesitas, penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat antikejang dan terapi HIV, serta pola makan vegetarian yang tidak direncanakan dengan baik.

Baca juga: Diet Raw Food Kian Populer, Tren Makan Tanpa Masak yang Diklaim Lebih Sehat

Pada orang dewasa, kekurangan vitamin D biasanya ditandai dengan nyeri otot dan tulang, khususnya pada punggung, tubuh yang mudah lelah, serta meningkatnya kerentanan terhadap infeksi seperti flu. Tak jarang pula muncul gangguan suasana hati, gejala depresi, luka yang sulit sembuh, hingga rambut rontok. Karena gejalanya tidak khas, banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah mengalami gangguan tulang yang lebih serius.

Para ahli kesehatan menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. Memenuhi kebutuhan vitamin D harian dapat dilakukan melalui kombinasi pola makan sehat dan gaya hidup aktif. Konsumsi makanan kaya vitamin D seperti susu dan produk olahannya, telur, ikan berlemak, minyak ikan, serta makanan laut sangat dianjurkan. Selain itu, paparan sinar matahari pagi selama 20–30 menit, setidaknya dua kali dalam sepekan, dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami.

Bagi kelompok berisiko atau mereka yang sulit memenuhi kebutuhan vitamin D dari makanan dan sinar matahari, penggunaan suplemen dapat menjadi pilihan. Namun, konsumsi suplemen sebaiknya dilakukan sesuai anjuran tenaga kesehatan agar dosisnya tepat dan aman.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vitamin D, diharapkan risiko penyakit akibat defisiensi vitamin ini dapat ditekan, sekaligus mendukung kualitas hidup yang lebih sehat di berbagai kelompok usia.

Baca juga: Kenali Zona Detak Jantung Saat Olahraga, Kunci Latihan Aman dan Efektif

Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Berita Unggulan

ORBIT VOX

Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.

Ikuti Kami

Dapatkan update terbaru melalui sosial media kami: