ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA – Ancaman kemarau panjang ekstrem yang kerap disebut “El Nino Godzilla” mulai menjadi perhatian serius. Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mengingatkan pemerintah pusat maupun daerah agar tidak terlambat dalam mengambil langkah antisipatif.
Menurut Azis, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa Indonesia kerap bereaksi setelah bencana terjadi, bukan mencegah sejak awal. Ia menilai pola tersebut harus segera diubah, terutama setelah peringatan dari BMKG terkait potensi cuaca ekstrem dan kemarau panjang.
“Jangan sampai kita kembali gagap menghadapi bencana. Ketika peringatan sudah diberikan, semua pihak harus siap. Upaya pencegahan jauh lebih efektif dan hemat dibandingkan penanganan dampak,” tegasnya.
Azis mencontohkan kejadian banjir yang berulang di wilayah Sumatera Utara, yang setiap tahun menimbulkan kerugian besar hingga ratusan miliar rupiah. Ia menilai kondisi tersebut menjadi bukti lemahnya sistem mitigasi yang belum berjalan optimal.
Bencana Nasional Masih Tinggi
Dalam konteks nasional, Azis juga menyoroti tingginya angka kejadian bencana yang hampir menyentuh 4.000 peristiwa setiap tahun. Ia mendorong BNPB untuk mengubah pendekatan kerja, dari yang selama ini dominan pada penanganan pascabencana menjadi lebih fokus pada pencegahan dan edukasi.
“Selama ini kapasitas BNPB lebih banyak terserap untuk penanganan darurat. Ke depan, perlu kebijakan yang lebih kuat dalam pemetaan daerah rawan bencana secara presisi, serta pengawasan ketat terhadap izin lahan dan kehutanan,” ujarnya.
Selain isu mitigasi, Azis memberi perhatian khusus pada kelompok anak-anak yang dinilai paling rentan saat bencana terjadi. Ia menyebut minimnya pengetahuan tentang evakuasi menjadi salah satu penyebab tingginya korban jiwa dari kalangan anak-anak.
Sebagai solusi, ia mendorong pemerintah untuk memasukkan pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum sekolah, mencontoh praktik yang telah diterapkan di Jepang.
“Anak-anak harus dibekali pengetahuan dasar tentang cara menyelamatkan diri. Mereka perlu memahami jalur evakuasi dan tindakan darurat sesuai kondisi wilayah, baik di pesisir maupun pegunungan,” jelasnya.
Baca juga: DPR Soroti Kualitas Katering Haji 2026, Makanan Nusantara Dinilai Tingkatkan Kenyamanan Jemaah
Menurut Azis, langkah tersebut penting mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire yang rawan gempa, tsunami, dan letusan gunung api.
Ia menegaskan bahwa membangun budaya sadar bencana sejak dini bukan hanya soal keselamatan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih tangguh dan bijak dalam menghadapi risiko lingkungan.
“Kesadaran sejak dini akan membentuk pola pikir masyarakat ke depan dalam memilih tempat tinggal yang aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.