ORBIT-NEWS.COM - Kabar puasa Ramadan tidak serempak
pada tahun ini umumnya sudah diketahui oleh anak-anak. Terutama anak-anak yang
tumbuh dalam ruang informasi tanpa batas. Adakalanya mereka mendengar langsung
percakapan orang tua, menyimak perdebatan di televisi, bahkan menonton potongan
video di media sosial yang menampilkan ragam pendapat awal puasa.
Daya kritis mereka terasah lebih
cepat. Pertanyaan pun muncul lugas, semisal “mengapa puasanya tidak mulai
bersama? Siapa yang benar?”
Pertanyaan itu wajar. Dalam konteks
Indonesia, perbedaan awal Ramadan kerap terkait metode penetapan. Ada yang
menggunakan hisab atau perhitungan astronomi, sebagaimana dipraktikkan
Muhammadiyah dengan pendekatan wujudul hilal. Ada pula yang mengedepankan rukyat,
yakni pengamatan langsung hilal yang kemudian dikukuhkan melalui sidang isbat,
sebagaimana menjadi tradisi Nahdlatul Ulama.
Bagi orang dewasa, perbedaan ini
dipahami sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam yang kaya. Namun bagi
anak, terutama usia sekolah dasar, dunia masih sering dipandang dalam kerangka
benar dan salah secara tegas. Ketika melihat tetangga sudah tarawih sementara
keluarganya belum, atau sebaliknya, kebingungan dapat muncul.
Di sinilah peran orang tua menjadi
penting. Menjelaskan perbedaan tidak cukup dengan kalimat singkat, “Memang dari
dulu begitu.” Anak membutuhkan penjelasan yang masuk akal sesuai tahap
perkembangannya. Mereka sudah mampu berpikir logis konkret: memahami bahwa satu
persoalan bisa diselesaikan dengan lebih dari satu cara.
Baca juga: Jurnalisme di Persimpangan AI : Antara Kecepatan dan Kebenaran
Orang tua dapat memulai dengan
analogi sederhana. Misalnya, menentukan awal bulan seperti menentukan awal
lomba. Ada jadwal yang dihitung sebelumnya, tetapi ada pula panitia yang
memastikan kondisi di lapangan memungkinkan acara dimulai. Dua pendekatan itu
berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu memastikan semuanya berjalan sesuai
aturan.
Lebih dari sekadar soal metode, yang
perlu ditekankan adalah sikap terhadap perbedaan. Anak perlu mendengar bahwa
perbedaan pendapat bukan tanda perpecahan. Dalam sejarah peradaban Islam,
perbedaan justru menjadi ruang tumbuhnya pemikiran. Kalimat sederhana seperti,
“Kita bisa berbeda dan tetap saling menghormati,” memiliki dampak psikologis
yang besar.
Di era digital, tantangannya
bertambah. Anak dapat terpapar narasi yang menyudutkan kelompok tertentu. Video
pendek yang provokatif mudah tersebar dan sering kali dikemas secara emosional.
Pendampingan menjadi kunci. Alih-alih melarang, orang tua dapat mengajak anak
berdiskusi, mengajak mereka menilai apakah cara penyampaian dalam video itu
mencerminkan akhlak yang baik.
Jika keluarga mengikuti keputusan
pemerintah melalui sidang isbat, jelaskan bahwa proses itu melibatkan para ahli
dan perwakilan berbagai organisasi. Anak belajar bahwa keputusan publik lahir
dari musyawarah. Jika keluarga mengikuti keputusan organisasi yang berbeda dari
mayoritas lingkungan, bekali anak dengan kepercayaan diri untuk menjelaskan
pilihan keluarganya secara santun.
Momen perbedaan awal Ramadan
sesungguhnya dapat menjadi laboratorium kecil pendidikan karakter. Anak belajar
tentang identitas, tentang konsistensi, sekaligus tentang empati. Mereka
memahami bahwa keyakinan dapat dipegang tanpa harus merendahkan pihak lain.
Baca juga: Broken Strings: Alarm Bahaya bagi Perlindungan Anak
Hal yang tak kalah penting, orang
tua perlu mengelola emosi diri. Nada sinis atau cemooh terhadap kelompok
berbeda mudah ditiru anak. Sebaliknya, sikap tenang dan argumentatif akan
membentuk pola pikir yang dewasa. Anak belajar bukan hanya dari apa yang
dikatakan, tetapi terutama dari bagaimana orang tua bersikap.
Alih-alih menjadikan perbedaan
sebagai sumber ketegangan, keluarga dapat mengalihkan fokus pada substansi
Ramadan itu sendiri. Kebersamaan saat sahur, solidaritas dan toleransi
berpuasa, kekhusyukan salat Tarawih berjamaah, serta kepedulian berbagi.
Pengalaman emosional yang hangat akan lebih membekas dibanding perdebatan
teknis yang rumit.
Intisarinya, pendidikan Ramadan di
dalam keluarga bukan semata soal kapan mulai berpuasa, melainkan bagaimana
menumbuhkan jiwa yang lapang. Ketika anak mampu memahami bahwa perbedaan adalah
bagian dari kehidupan sosial, ia sedang belajar menjadi warga yang matang
secara emosional dan spiritual.
Ramadan mungkin tidak selalu datang
serempak dalam penanggalan. Namun jika keluarga mampu mengelola perbedaan
dengan bijak, nilai yang tumbuh justru serempak: saling menghormati, saling
memahami, dan bersama-sama merawat persaudaraan.
Baca juga: Kritik, Komedi, dan Bullying: Pelajaran Kitab Akhlak Pesantren dari Kontroversi Pandji–Gibran
Penulis : Rektor UIN SMH Banten, M. Ishom El Saha.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.