ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya reposisi peran masjid agar tidak semata-mata menjadi ruang ibadah ritual, tetapi berkembang sebagai pusat pemberdayaan umat dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Masjid, menurutnya, harus hadir sebagai ruang bersama yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat dalam semangat inklusivitas dan kepedulian sosial.
Penegasan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Amaliah Astra Awards 2025 yang digelar Yayasan Amaliah Astra (YAA) di Astra Tower, Jakarta, Rabu (14/1/2025). Ajang ini menjadi wujud apresiasi terhadap pengelolaan masjid dan musala yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi jamaah dan lingkungan sekitar.
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar mengapresiasi konsistensi Yayasan Astra dalam mendorong tata kelola masjid yang progresif dan berdampak sosial. Ia menilai inisiatif tersebut layak menjadi contoh lintas sektor, termasuk bagi lembaga pemerintah, dalam membangun kehidupan keagamaan yang produktif dan relevan dengan tantangan zaman.
Menag menuturkan bahwa sejak era Rasulullah SAW, masjid telah memainkan peran multidimensi dalam kehidupan masyarakat. Masjid Nabi di Madinah, kata dia, bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, hingga pengambilan keputusan penting. Bahkan, porsi penggunaan masjid untuk ibadah ritual hanya sebagian kecil dibandingkan fungsi sosial dan kemasyarakatan yang dijalankannya.
“Masjid adalah titik temu antara manusia dengan Tuhannya. Dari sanalah berbagai persoalan hidup seharusnya diselesaikan. Ketika masalah dihadapi di tempat yang sakral, beban terasa lebih ringan,” ujarnya.
Baca juga: Haedar Nashir Ajak Umat Islam Jadikan Ramadan 1447 H Momentum Penguatan Takwa dan Kemajuan Peradaban
Lebih jauh, Menag menjelaskan bahwa masjid pada masa awal Islam juga berfungsi sebagai pusat informasi, lembaga peradilan, sekretariat pemerintahan, hingga ruang dialog lintas komunitas. Nilai tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa masjid sejatinya merupakan simbol kemanusiaan yang terbuka dan merangkul siapa pun.
Karena itu, Nasaruddin Umar mendorong agar pengelolaan masjid ke depan tidak berhenti pada aspek fisik dan ritual, tetapi turut berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi umat. Optimalisasi zakat dan wakaf yang kini telah difasilitasi negara dinilai menjadi instrumen penting agar dana keagamaan bersifat produktif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Astra, Boy Kelana Soebroto, mengungkapkan bahwa Amaliah Astra Awards 2025 diikuti oleh 537 masjid dan musala, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran para pengelola masjid untuk menghadirkan program yang tidak hanya memakmurkan tempat ibadah, tetapi juga memberi dampak sosial yang luas.
Ketua Pembina Yayasan Astra, Gita Tiffany Boer, menambahkan bahwa pembinaan masjid di lingkungan Astra diarahkan agar masjid mampu menjadi sumber inspirasi, ketenangan, dan keseimbangan spiritual di tengah dinamika kehidupan modern.
Baca juga: Sambut Ramadan 2026, Kemendag Buka Pasar Murah, 75 UMKM Ramaikan Lapangan Pejambon
Selama lima tahun pelaksanaannya, termasuk pada masa pandemi Covid-19 melalui format daring, Amaliah Astra Awards dinilai menjadi praktik baik kolaborasi dunia usaha dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat yang inklusif, adaptif, dan berorientasi masa depan.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.