ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mulai memperketat langkah antisipasi menghadapi potensi bencana pada masa pancaroba, yakni periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau yang diperkirakan turut dipengaruhi fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut saat ini wilayah Jateng masih berada dalam fase transisi musim. Kondisi tersebut masih ditandai cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah daerah.
“Meski secara umum mulai masuk musim kemarau, kondisi saat ini masih pancaroba. Potensinya masih hujan lebat dan angin kencang,” terangnya.
Menurut Bergas, berdasarkan informasi BMKG, pola cuaca tersebut masih akan berlangsung hingga peralihan musim benar-benar stabil. Sementara itu, fenomena El Nino diperkirakan dapat memperkuat intensitas musim kemarau pada 2026 hingga 2027, merujuk pada pola kejadian serupa pada 2019 dan 2023.
Antisipasi Kekeringan di Wilayah Rawan
Baca juga: Selangor Tertarik Inovasi Banyumas, Jajaki Kerja Sama Teknologi dan Investasi Pengelolaan Sampah
Untuk menghadapi potensi kekeringan, BPBD Jateng telah menginstruksikan pemerintah kabupaten/kota menyiapkan sarana dan prasarana, terutama terkait pemenuhan kebutuhan air bersih di daerah rawan.
Upaya yang dilakukan antara lain pembangunan sumur dalam, pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta penyiapan armada tangki air untuk distribusi bantuan saat krisis terjadi.
“Pemerintah provinsi sudah melakukan berbagai langkah, termasuk penambahan sumur dalam dan penguatan SPAM di beberapa daerah,” kata Bergas.
Ia menambahkan, penyiapan logistik air bersih juga dilakukan dengan memperhatikan data historis wilayah terdampak kekeringan, seperti Kabupaten Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, serta sejumlah wilayah pesisir utara Jawa Tengah.
Selain pemerintah daerah, penanganan juga melibatkan dukungan pemerintah pusat serta kolaborasi dengan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). BPBD sendiri telah melakukan rapat koordinasi lintas sektor untuk memperkuat kesiapsiagaan.
“Konsepnya menabung air. Masyarakat bisa memanfaatkan tandon atau wadah sederhana untuk menyimpan air,” jelasnya.
Ia menyebut, wadah penampungan dapat berupa tandon berkapasitas 2.000 hingga 5.000 liter yang dapat dibangun secara mandiri di lingkungan RT atau RW, maupun melalui bantuan CSR.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.