ORBIT-NEWS.COM, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai menata langkah penanganan pascabanjir seiring masih berlangsungnya genangan di sejumlah wilayah Pantai Utara (Pantura). Fokus utama diarahkan pada pemetaan dampak bencana, khususnya kerusakan infrastruktur di jalur Pantura yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi logistik dan aktivitas ekonomi regional.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, hingga kini pemerintah daerah masih melakukan pendataan menyeluruh untuk memastikan tingkat kerusakan dan kebutuhan anggaran pemulihan.
“Penanganan banjir memang belum sepenuhnya selesai. Untuk tahap pascabencana, kami baru mulai menghitung dan memetakan dampaknya, termasuk kerusakan infrastruktur,” ujarnya.
Menurut Taj Yasin, jalur Pantura dari Kabupaten Rembang hingga Kota Semarang menjadi prioritas utama perhatian. Selain jalan nasional, kerusakan juga ditemukan pada ruas jalan provinsi dan kabupaten yang tetap dilalui kendaraan berat meski dalam kondisi banjir.
“Pantura dari Rembang sampai Semarang itu belum semuanya terhitung. Belum lagi ruas dari Semarang ke arah barat. Ini yang sedang kami laporkan ke pemerintah pusat,” jelasnya.
Baca juga: Jalur Semarang–Purwodadi Putus Total, Polisi Terapkan Pengalihan Arus dan Siaga Penuh di Grobogan
Pemprov Jawa Tengah, lanjutnya, tengah menyiapkan pengajuan anggaran untuk rehabilitasi infrastruktur sekaligus pembangunan sistem pengendali banjir, seperti peninggian tanggul dan normalisasi sungai. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah banjir berulang pada musim hujan berikutnya. Di Kabupaten Pati, banjir disebut terjadi akibat tingginya debit air yang meluap ke pemukiman. Kondisi ini menuntut penanganan jangka panjang melalui peningkatan kapasitas sungai dan perlindungan tanggul.
“Kalau terjadi limpasan, berarti debit airnya sangat tinggi. Ini perlu peninggian tanggul atau normalisasi sungai,” kata Taj Yasin.
Situasi diperparah dengan fenomena rob yang terjadi bersamaan, sehingga proses pembuangan air ke laut menjadi terhambat. Di Kota Pekalongan, Pemprov Jateng menilai pembangunan bendungan karet di Sungai Bremi sebagai kebutuhan mendesak, meski membutuhkan anggaran besar. Rencana serupa juga disiapkan untuk wilayah hilir Kabupaten Pati.
Meski demikian, Taj Yasin menegaskan setiap pembangunan infrastruktur pengendali banjir harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat setempat, khususnya nelayan di sekitar Sungai Juwana.
“Kalau dipasang tanggul karet, kapal nelayan bisa kesulitan keluar masuk. Ini tidak bisa diputuskan sepihak, harus didiskusikan dengan masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: 532 Warga Brebes Terdampak Tanah Gerak, Pemprov Jateng Percepat Relokasi dan Pembangunan Huntara
Untuk penanganan darurat, Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Pantura, meliputi Pati dan Pekalongan. Operasi ini telah berjalan sejak 15 Januari dan diperpanjang hingga 24 Januari 2026, sambil menunggu evaluasi dan prakiraan cuaca dari BMKG.
Kerugian Material
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menyampaikan, banjir hingga kini masih melanda Kabupaten Pati, Kudus, dan Pekalongan, dengan kerugian material yang cukup besar. Dalam kondisi tersebut, BPBD menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama. Proses evakuasi terus dilakukan bersama TNI, Polri, dan relawan, dengan perhatian khusus pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Pengungsian memanfaatkan fasilitas sosial dan fasilitas umum, seperti sekolah, masjid, dan aula. Kebutuhan pangan didukung oleh Kemensos, Dinsos, PMI, Baznas, serta partisipasi masyarakat,” ujar Bergas.
Ia berharap, ke depan pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah dirancang lebih adaptif dan tangguh terhadap bencana. Masyarakat juga diimbau meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dengan memahami jalur serta lokasi evakuasi sejak dini.
“Ketika ada peringatan cuaca ekstrem, masyarakat harus segera saling menginformasikan dan sudah tahu ke mana harus mengungsi, supaya tidak panik saat bencana datang,” pungkasnya.
Belum ada komentar.
Kirimkan kritik, ide, dan aspirasi Anda melalui email resmi redaksi redaksiorbitnews@gmail.com. Suara Anda penting bagi kami.