ORBIT-NEWS.COM, REMBANG - Menjelang peringatan Hari Kartini pada 21 April, sebuah meja kayu sederhana di Museum RA Kartini Rembang kembali menjadi sorotan. Di balik tampilannya yang biasa, meja tersebut menyimpan kisah hangat tentang kebersamaan keluarga, tradisi, hingga pemikiran mendalam dari RA Kartini yang jarang diketahui publik.
Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati, menjelaskan bahwa setiap koleksi di museum memiliki nilai sejarah yang kuat. Salah satunya adalah meja di ruang keluarga yang menjadi tempat berkumpul keluarga Raden Adipati Joyodiningrat dan RA Kartini.
“Kalau dilihat sekilas memang hanya meja biasa, tetapi di sana ada kebiasaan keluarga yang rutin berkumpul di sore hari,” jelasnya.
Ia menuturkan, momen kebersamaan keluarga biasanya terjadi sekitar pukul empat sore. Setelah selesai beraktivitas, mereka berkumpul di meja tersebut sambil menikmati teh bersama.
Baca juga:
Kemenag Perluas Jangkauan Dakwah Lewat 2.199 Dai di Wilayah 3T, Ratusan Ribu Warga Terlayani Selama Ramadan
“Setelah selesai bekerja dan beristirahat, mereka biasanya duduk bersama sambil minum teh,” tuturnya.
Tradisi minum teh tersebut merupakan pengaruh budaya Belanda, namun keluarga Kartini memberi sentuhan lokal dengan menambahkan kapulaga ke dalam minuman mereka. Kapulaga tersebut diduga berasal dari tanaman obat yang ditanam di sekitar rumah.
Filosofi Hidup
Lebih dari sekadar tempat berkumpul, meja tersebut juga memiliki nilai filosofi yang kuat. Meja dan kursi di sekelilingnya dirancang dengan simbol-simbol bermakna, termasuk tokoh pewayangan.
Terdapat enam kursi yang mengelilingi meja tersebut. Lima di antaranya menggambarkan tokoh Pandawa Lima, sementara satu kursi lainnya melambangkan sosok Kresna.
Baca juga:
Retret DPRD di Magelang, Prabowo Tekankan Peran Strategis Daerah Menuju Indonesia Emas 2045
“Pandawa Lima melambangkan keluarga yang solid dan bersatu. Ini menunjukkan harapan Kartini tentang kekuatan keluarga,” ungkap Retna.
Sementara itu, Kresna dipilih sebagai simbol kebijaksanaan dan penengah dalam kehidupan.
Menurut Retna, keberadaan meja ini menunjukkan bahwa pemikiran RA Kartini tidak hanya tertuang dalam surat-suratnya, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga.
“Dari sebuah meja sederhana, kita bisa melihat bagaimana Kartini memaknai kebersamaan, keluarga, dan filosofi hidup,” tambahnya.
Menjelang peringatan Hari Kartini 21 April, kisah di balik meja ini menjadi pengingat bahwa warisan RA Kartini tidak hanya berupa gagasan emansipasi perempuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang hadir dalam kesederhanaan, sebuah percakapan sore, secangkir teh, dan kebersamaan keluarga yang penuh makna.
Baca juga:
Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Wafat, Dunia Pers Kehilangan Figur Pemersatu