ORBIT-NEWS.COM, JAKARTA - Program pengiriman dai ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah perbatasan yang dijalankan Kementerian Agama (Kemenag) pada 2026 mencatat capaian besar. Sepanjang Ramadan, program ini tidak hanya memperkuat layanan keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan, sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Sebanyak 2.199 dai dan daiyah diturunkan ke 38 provinsi untuk memperluas akses pembinaan keagamaan di tengah masyarakat. Kehadiran mereka menjadi bagian dari strategi penguatan peran dakwah yang lebih aktif selama bulan suci.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis M. Hanafi mengatakan, Ramadan menjadi periode paling intensif dalam aktivitas para dai di lapangan. Ia menyebut kehadiran mereka membawa dampak nyata bagi masyarakat.
“Selama Ramadan, aktivitas Dai 3T meningkat signifikan, mulai dari pembinaan ibadah, pengajaran Al-Qur’an, hingga penguatan kehidupan keagamaan masyarakat. Ini menjadi bukti bahwa kehadiran dai benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat,” terangnya.
Baca juga:
Pemerintah Percepat Standar Higiene SPPG, Lebih dari 13 Ribu Unit Kantongi Sudah Sertifikat
Pelaksanaan program ini juga melibatkan berbagai mitra strategis, termasuk Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) serta pondok pesantren di berbagai daerah. Kolaborasi tersebut memperkuat distribusi layanan keagamaan sekaligus mendukung kegiatan sosial seperti penyaluran zakat, infak, dan sedekah.
Ratusan Ribu Anak Dapat Bimbingan Al Qur'an
Dari sisi pendidikan, dampaknya cukup luas. Tercatat 238.577 anak dan 128.505 remaja mendapatkan bimbingan tahsin Al-Qur’an, sementara 145.134 ibu turut mengikuti pembinaan serupa. Angka ini menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam pembelajaran keagamaan selama Ramadan.
Aktivitas keagamaan juga berlangsung di tingkat komunitas melalui 27.738 majelis taklim dan 17.214 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ/TPA). Sepanjang Ramadan, tercatat 69.636 kegiatan seperti kultum, tadarus, dan pengajian dengan total jamaah mencapai 600.055 orang.
Selain itu, layanan konsultasi keagamaan menjangkau 58.403 warga. Kegiatan dakwah juga berlangsung di 33.476 masjid dan 13.735 mushalla yang menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat.
Baca juga:
Ombudsman Minta Maaf, Tegaskan Komitmen Jaga Integritas di Tengah Kasus Hukum Ketua
Tidak hanya fokus pada ibadah, program ini turut menyentuh aspek pemberdayaan sosial. Sebanyak 94.450 remaja mengikuti pelatihan pengembangan diri, sementara 22.798 persoalan sosial-keagamaan di masyarakat berhasil dimediasi.
Muchlis menegaskan bahwa peran dai kini semakin luas, tidak terbatas pada pengajaran agama semata. Mereka juga terlibat dalam pendampingan ekonomi umat, pelatihan UMKM, edukasi pengelolaan ZIS, hingga aksi kemanusiaan di daerah terdampak bencana.
Selain itu, pembinaan juga mencakup program baca tulis Al-Qur’an, pelatihan pemulasaran jenazah, pembinaan mualaf, hingga penguatan keterampilan masyarakat desa melalui berbagai pelatihan.
Program Dai 3T ini menjadi salah satu langkah strategis Kementerian Agama dalam memastikan layanan keagamaan tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau wilayah yang sulit akses, dengan dampak yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat luas, khususnya di momen Ramadan.
“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran dai di wilayah 3T bukan hanya sementara, tetapi menjadi bagian dari penguatan kehidupan beragama dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Baca juga:
OJK Perkuat Literasi Keuangan Lewat Pendidikan Formal, Dorong Generasi Muda Lebih Cakap Finansial